Kwanghan pavilion, Tempat Khusus Perayaan Cinta



Kwanghan pavilion disebut juga dengan nama Chunhyang. Dibangun pada masa pemerintahan Raja Sejong, bangunan ini pernah terbakar saat bencana Jonggyu namun diperbaiki pada tahun 1638 dan utuh hingga sekarang. Di Kwanghan berdiri sebuah kolam teratai yang dikelilingi oleh pagar. Yang paling menarik dari tempat ini adalah Chunhyangjeon yang merupakan salah satu kisah rakyat Korea yang paling terkenal, khususnya di daerah Namwon, Jeollabuk-do dimana Kwanghan Pavilion berdiri.

Chunhyangjeon adalah kisah cinta antara anak seorang penghibur bernama Song Chunhyang dengan Lee Doryong. Lee Doryong adalah anak Pyon seorang hakim kepala di kota itu. Mereka pertama kali bertemu dan saling jatuh hati di Kwanghan Pavilion. Namun cinta mereka terhalang perbedaan kelas sosial. Layaknya cerita dalam kisah Romeo dan Juliet, Song Chunhyang dan Lee Doryong tetap saling setia dan menyakini bahwa yang mereka jalani ini adalah bagian dari perjalanan cinta sejati. Hingga pada akhirnya, Chunhyang memutuskan untuk bunuh diri karena tidak pernah bisa menikah dengan Lee Doryong. Mengetahui kekasihnya meninggal maka ia pun pergi dengan kekecewaan karena hasrat cintanya tidak terpenuhi. Ya, pada masa itu, setiap pasangan yang berbeda kasta memang tidak pernah mungkin bersatu dalam sebuah ikatan pernikahan. Menurut catatan dari pemerintah setempat, semua orang-orang yang ada di cerita itu nyata adanya.

Kisah cinta yang mengharu pilu ini kemudian diabadikan melalui bangunan kuil Chunhyang yang masih berada di kawasan yang sama. Kuil ini dibangun untuk menghormati dan mengenangkan perjuangan cinta Chunhyang kepada Lee Doryong. Pintu masuk menuju kuil ini bernama “kuil Chunghyang, wanita berbudi luhur”. Para pengunjung berduyun-duyun untuk melakukan ritual keagamaan dan tak jarang menyelipkan doa agar segera menemukan pasangan jiwa.

Selain kuil Chunhyang, kita juga bisa mengunjungi sebuah rumah yang bernama “Wolmae”. Wolmae adalah nama ibu Chunhyang. Desain rumah mungil ini bergaya khas periode saat Raja Sejong memerintah. Di halaman bagian dalam berdiri sebuah kolam kecil dan taman.

Hal terakhir yang bisa ktia lihat adalah kolam yang mendapat limpahan air dari sungai Yochon dan kerap dihiasi dengan bunga teratai yang tumbuh di beberapa sudutnya. Diatas kolam dibangun sebuah sebuah jembatan yang disebut dengan jembatan Ojak. Jembatan ini melambangkan kisah cinta Chunhyang dan Lee Doryong. Kepercayaan yang berkembang mengatakan pasangan yang berjalan di atas Ojak akan menjalani kehidupan yang bahagia dan mempunyai anak-anak yang selalu diberkahi.

sumber

Post a comment

Next Post
Posting Lebih Baru
Previous Post
Posting Lama