.

Ribuan Yahudi Iran Diselamatkan Seorang Muslim dari Kejaran Nazi

Diposting oleh GaBohong



SardariAbdol-Hoosein Sardari mempertaruhkan hidup untuk membantu warga Yahudi Iran.

Ribuan warga Yahudi Iran dan keturunan mereka berhutang budi kepada seorang diplomat Muslim pada masa perang di Prancis, menurut satu buku baru.

Buku The Lions Shadow (Bayang-bayang singa) mengangkat cerita Abdol-Hoosein Sardari yang mempertaruhkan hidupnya untuk membantu warga Iran Yahudi itu menyelamatkan diri dari Nazi.

Eliane Senahi Cohanim berusia tujuh tahun saat ia melarikan diri dari Prancis dengan keluarganya.

Cohanim mengatakan ia masih ingat memegang bonekanya dan berpura-pura tidur pada saat kereta yang mereka tumpangi berhenti di pos pemeriksaan Nazi.

"Saya ingat saat kami melarikan diri, mereka menanyakan paspor saya dan saya ingat ayah saya akan menyerahkan paspor dan mereka akan memandangi kami. Menakutkan, sangat, sangat menakutkan," katanya.

Nyonya Cohanim dan keluarganya merupakan bagian dari komunitas kecil Yahudi Iran yang tinggal di seputar Paris.

Ayahnya, George Senahi, adalah pedagang tekstil dan keluarganya tinggal di rumah besar di Montmorency, sekitar 25 km di utara ibukota Paris.

Gemetar

Saat Nazi menyerbu, keluarga Senahi berupaya melarikan diri ke Teheran, dan untuk sementara waktu bersembunyi di Prancis sebelum dipaksa kembali ke Paris yang saat itu telah dikuasai Gestapo.

"Saya masih ingat sikap mereka. Cara mereka jalan dengan bot hitam. Melihat mereka saja sudah menakutkan bagi seorang anak," kenang Nyonya Cohanim, yang berbicara dari rumahnya di Kalifornia, Amerika Serikat.

Abdol-Hossein Sardari memberikan paspor untuk keluarga Senahi agar dapat keluar dari dari kawasan Eropa yang diduduki Nazi.

Perjalanan untuk melarikan diri ini sekitar satu bulan.

"Di perbatasan, ayah saya selalu gemetar," katanya lagi.

Nyonya Cohanim yang berusia 78 tahun dan tinggal bersama suaminya Nasser Cohanim, menyadari betul siapa yang membantu mereka.

"Saya ingat, ayah saya selalu mengatakan bahwa kami dapat menyelamatkan diri karena Sardari."

"Paman dan tante saya serta kakek nenek tinggal di Paris. Mereka selamat karena Sardari."

Ia mengatakan, "Saya rasa dia seperti Schindler pada saat itu karena membantu warga Yahudi di Paris."

Pahlawan tak dikenal

Sardari
Sardari meninggal di London selatan tanpa dikenal namun dihargai oleh organisasi Yahudi.

Oscar Schindler adalah orang Jerman yang menyelamatkan lebih dari 1.000 Yahudi selama Holocaust dengan mempekerjakan mereka di pabrik-pabrik.

Namun tidak seperti Schindler yang dianggap pahlawan, Sardari nyaris tidak dikenal.

Penulis buku Lions Shadow, Fariborz Mokhtari, menggambarkan Sardari, seorang bujangan yagn tiba-toba menjadi kepala misi diplomatik Iran pada awal Perang Dunia II.

Iran secara resmi bersikap netral saat itu namun tetap mempertahankan hubungan dagang dengan Jerman.

Pengaturan seperti itu disenangi Hitler. Mesin propaganda Nazi menyatakan warga Iran adalah dekat dengan Jerman.

Warga Yahudi Iran di Paris saat itu masih menghadapi intimidasi dan indentitas mereka sering dibocorkan oleh informan.

Dalam sejumlah kasus, Gestapo diberitahu saat bayi Yahudi laki lahir dan disunat di rumah sakit.

Ibu-ibu bayi itu diperintahkan untuk melapor ke kantor urusan Yahudi untuk mendapatkan tanda khusus.

Pengorbanan hidup

Namun Sardari menggunakan pengaruhnya dan kontak di Jerman untuk mendapatkan perkecualian untuk lebih dari 2.000 warga Yahudi Iran dan menyatakan bahwa mereka tidak punya hubungan darah dengan warga Yahudi Eropa.

Ia juga dapat membantu banyak warga Iran lain termasuk komunitas Yahudi, kembali ke Teheran dengan mengeluarkan paspor baru yang diperlukan untuk melintas Eropa.

Mokhtari berharap dengan mengangkat cerita itu, melalui kisah para korban selamat termasuk Cohanim, ia akan mengangkat "kesalahpahman" tentang Iran dan rakyat Iran.

"Kisah ini adalah seorang warga Muslim Iran yang mengambil risiko hidupnya, karirnya, kekayaannya, dan semuanya, untuk membantu sesama warga Iran," katanya.

"Tidak ada perbedaan, saya Muslim dan dia Yahudi, atau apapun perbedaannya."

Ia mengatakan cerita itu menggambarkan kebudayaan Iran yang toleran dan sering diabaikan dalam situasi politik saat ini.

Sumber]