.

Tempat Pelesir Paling Unik di Indonesia

Diposting oleh GaBohong


Banyak orang yang bilang, berpetualanglah Anda selagi masih muda. Ini tentunya bukan tanpa alasan, Ketika Anda masih mempunyai banyak waktu dan kesempatan jalan-jalan adalah hal wajib yang perlu dilakukan. Menambah teman, pengalaman dan pengetahuan ketika usia masih muda tentunya akan menjadikan modal buat Anda untuk menjalani kehidupan. Berpetualanlah ke Banua Wuhu dijamin akan menambah pengalaman yang sangat indah, Pulau Boti tempat yang sunyi sepi tetapi gegap gempita menyediakan makna kehidupan, Gunung Binaiya, Pendakian yang sangat menantang dari awal sampai akhir tetapi akan dibayar lunas dengan pemandangan yang sangat menakjubkan serta Kampung Vietnam di Pulau Galang tempat yang penuh dengan kenangan yang memilukan.

Banua Wuhu
Tempat, Berpetualang, Paling, Unik, Di, Indonesia
Adalah Banua Wuhu sebuah gunung berapi yang berada di dasar laut dengan ketinggian 400 meter  di Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Indonesia.

Titik kepundan ditandai dengan keluarnya gelembung diantara bebatuan pada kedalaman 8 meter. Suhu rata-rata air disana berkisar 37-38 derajad Celsius. Di sejumlah lubang banyak keluar air panas yang nampaknya mampu membuat tangan telanjang melepuh bila anda mencoba-coba merogoh ke dalamnya.

Hal yang sangat Aneh dan menarik ditempat ini adalah disekitar gunung berapi ini hidup bota laut yang sangat indah dan menakjubkan dengan terumbu karang yang rapat pada kedalaman 10-20 meter, Tak heran Banua Wuhu menjadikan area Diving paling Unik di Indonesia.

Suku Boti, Kerajaan Terakhir Timor
Tempat, Berpetualang, Paling, Unik, Di, Indonesia

Suku Boti merupakan keturunan dari suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Wilayah Boti terletak sekitar 40 km dari kota kabupaten Timor Tengah Selatan, So’e. Secara administratif kini menjadi desa Boti kecamatan Kie. Karena letaknya yang sulit dicapai di tengah pegunungan, desa Boti seakan tertutup dari peradaban modern dan perkembangan zaman. Suku ini memiliki bahasa Dawan sebagai bahasa daerahnya.

Suku Boti menjadi benteng terakhir tradisi asli Pulau Timor. Di tengah serangan modernitas yang bertubi-tubi, Suku Boti tetap memegang kukuh warisan tradisi dan agama leluhurnya, Halaika. Hingga kini, Suku Boti masih hidup dalam kebersahajaan mereka yang bergantung pada kerasnya alam daratan Pulau Timor. Mereka juga sangat menghormati alam lestari dengan hidup harmonis bersamanya… Boti, sunyi terpencil lokasinya tapi gegap gempita menyediakan makna kehidupan.

Sebagai pengalaman yang tak tertandingi, perjalanan ke Boti pantas disebut sebagai wisata petualangan untuk yang berjiwa muda

Benteng Tradisi Atoni Metu
Tempat, Berpetualang, Paling, Unik, Di, Indonesia

Tidak ada masyarakat di Pulau Timor yang memegang tradisi leluhur seteguh dan seasli Suku Boti. Suku Boti merupakan segelintir yang tersisa dari pewaris tradisi suku asli pulau Timor, Atoni Metu. Suku yang mendiami pegunungan terpencil di Kecamatan Kie, Kab. Timor Tengah Selatan ini masih menganut kepercayaan bercorak animisme.

Keyakinan dan kepercayaan Suku Boti disebut Halaika. Suku Boti percaya pada dua penguasa alam yaitu Uis Pah dan Uis Neno. Uis Pah sebagai mama atau ibu yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta beserta isinya termasuk manusia. Uis Pah disebut juga sebagai Dewa Bumi.

Sedangkan Uis Neno sebagai papa atau bapak merupakan penguasa alam baka yang akan menentukan seseorang bisa masuk surga atau neraka berdasarkan perbuatannya di dunia. Uis Neno menjadi Dewa Langit.  Bagi Suku Boti, hidup ini diatur oleh tiga kekuatan besar, yakni Uis Pah, Uis Neno, juga roh arwah leluhur (Nitu).

Suku Boti dikenal sangat ketat dalam memegang adat dan kepercayaannya. Bila dilanggar, maka pelanggar akan dikenakan sanksi yang tegas. Bisa jadi warga pelanggar harus keluar dari komunitas suku Boti karena tidak diakui lagi sebagai penganut Halaika lagi. Implementasi aturan ini berlaku untuk siapapun. Tidak peduli orang tersebut adalah bagian dari keluarga raja sekalipun.

Laka Benu, putra sulung dari Raja Boti yang legendaris, Usif Nune Benu, harus meninggalkan Boti karena dia memeluk agama Katolik. Padahal, Laka Benu adalah putra mahkota Boti menggantikan Usif Nune Benu yang mangkat pada Maret 2005. Tradisi Boti mensyaratkan raja harus dipegang oleh orang yang mewarisi agama leluhur. Oleh karena itu, Laka Benu tidak bisa menjadi raja. Malah dia ‘dipersilakan’ untuk pergi dari Boti.

Tahta Raja Boti kemudian diberikan kepada Namah Benu, sang adik Laka Benu. Namun, saat pergantian tahta, tidak serta merta langsung sang raja baru dikukuhkan. Melainkan ada masa tiga tahun berkabung untuk menghormati Usif Nune Benu.

Selama itu, orang Boti tidak mengadakan pesta-pesta adat. Baru kemudian Namah Benu dikukuhkan menjadi Raja Boti dengan sebutan Usif Namah Benu. Usif adalah sebutan atau gelar yang diberikan Suku Boti terhadap raja mereka yang juga merupakan pemimpin adat dan spiritual warga Boti.

Pendakian ke Gunung Binaiya
Tempat, Berpetualang, Paling, Unik, Di, Indonesia
 Gunung yang relatif kurang sering didaki tetapi sebaiknya masuk daftar wisata petualangan Indonesia untuk yang berjiwa muda adalah Binaiya (3.019 meter dpl) di Seram, Maluku. Berlokasi di jantung Taman Nasional Manusela, pendakian dimulai dari 0 meter dpl dan penuh dengan segala macam tantangan. Namun dengan menjalani semua kesulitan itu Anda bisa menikmati pemandangan bentang alam yang dahsyat, burung-burung endemik, dan pertemuan dengan penduduk setempat.

Jalur pendakian utara dikenal lebih cepat dan mudah daripada jalur selatan, tetapi keduanya bertemu di kampung adat Kanikeh. Sebelum bertolak ke puncak, adat setempat mengharuskan pengunjung memohon doa restu penduduk Kanikeh dalam bentuk upacara adat. Perjalanan ini cenderung riskan karena Binaiya dikenal sebagai daerah preman yang sering menarik pungli. Untuk meminimalkan risiko, bawalah pemandu asli daerah yang mempunyai hubungan baik dengan penduduk setempat.

Trip murah ke Raja Ampat
Tempat, Berpetualang, Paling, Unik, Di, Indonesia

Apakah “mahal” merupakan kata pertama yang Anda padankan dengan Raja Ampat? Mungkin Anda akan berterima kasih pada diri sendiri kalau selagi masih muda meniatkan untuk mengunjungi Raja Ampat secara murah. Untuk mengirit biaya, naiklah kapal Pelni ke Sorong dari Bitung (Sulawesi Utara), Ternate (Maluku Utara) atau Ambon (Maluku). Dari Sorong, bisa naik kapal kayu ke Waisai seharga Rp 70.000 per orang.

Rencanakan perjalanan untuk 5 hingga belasan orang. Anggarkan biaya yang bisa berpatungan: sewa kapal, transportasi, penginapan. Atau pasang tenda di tepi pantai kalau berani! Persediaan makanan, air minum, dan bahan bakar sebaiknya sudah disiapkan dari mainland Papua Barat. Bawalah peralatan snorkeling sendiri. Tanyakan pada penduduk lokal lokasi-lokasi “kembaran” pulau-pulau populer seperti Wayag. Dengan merencanakan sendiri perjalanan irit ke Raja Ampat, Anda juga bisa mendekatkan diri dengan kehidupan nyata penduduk setempat—bukan sekadar memandang Raja Ampat sebagai surga bahari tempat pelarian dari dunia nyata.

Kampung Vietnam, Pulau Galang
Tempat, Berpetualang, Paling, Unik, Di, Indonesia

Suatu tempat yang sangat ideal untuk dijadikan areal pendidikan di alam terbuka bagi anak-anak dan pemuda, semacam bumi perkemahan Cibubur di Jakarta. Selain itu tempat tersebut menarik dikunjungi, baik turis lokal maupun mancanegara untuk melihat sambil mengagumi nilai-nilai yang terkandung di balik pembangunan perkampungan tersebut. Juga sambil melakukan refleksi diri, pelajaran apa yang dapat dipetik dari peristiwa itu untuk masa depan kehidupan umat manusia.

“Kampung Vietnam” di Pulau Galang yang sejak tahun 1979-1996 pernah dihuni sekira 250.000 orang manusia perahu yang dikumpulkan dari berbagai tempat di sekitar Kepulauan Riau itu. Sebelumnya mereka hidup bersama penduduk setempat dengan imbalan barang-barang yang mereka bawa.

Pada umumnya mereka memberikan imbalan berupa emas. Dan kesan penduduk yang pernah berhubungan dengan para pengungsi itu, di antara mereka tampaknya banyak orang yang tergolong berada. Atas prakarsa pemerintah dan UNHCR, sengaja mereka dikonsentrasikan pada suatu tempat permukiman yang tertutup interaksinya dengan penduduk setempat untuk memudahkan pengawasan, pengaturan dan keamanan mereka. Selain itu, pemerintah khawatir akan berjangkitnya penyakit kelamin yang mengerikan yang kedapatan di antara mereka, yang disebut Vietnam Rose, sebelum orang mengenal virus HIV yang lebih mengerikan lagi.

Sekarang, perkampungan para pengungsi Vietnam itu telah menjadi wilayah terbuka untuk dikunjungi masyarakat karena telah ditinggalkan para pengungsi.

Sumber

{ 0 komentar... baca komentar atau tambah komentar }

Posting Komentar