.

Ini Dia 5 Spot Terbaik di Raja Ampat

Diposkan oleh GaBohong


Sebenarnya, apa pun yang kamu lihat dan lakukan di Raja Ampat, Papua Barat, dijamin akan memukau dirimu. Soft-coral yang besar melambai-lambai, gua bawah laut, belasan pulau karang di tengah laut yang memberikan kesan sedang berada di jaman jurrassic, hard-coral yang tumbuh melampaui batas air, perairan yang jernih, dan lain-lain. Tapi, pasti ada beberapa orang yang bertanya (mungkin kamu salah satu diantaranya), “bagaimana caranya agar perjalanan Raja Ampat-ku jadi tak hanya memukau, tapi tak terlupakan?” Jawabannya, tentu adalah dengan mendatangi spot-spot yang terkenal secara internasional di sana.
So, andaikata kamu menyewa perahu sendiri di Raja Ampat atau tour leader-mu bertanya, “mau ke mana lagi kita?”, maka kami sangat merekomendasikan kamu untuk menyebutkan setidaknya satu dari lima spot di bawah ini:


Stasiun Pencucian Pari Manta di Waigeo
Bayangkan puluhan Pari Manta –sebagian memiliki lebar sampai lebih dari 5 meter— melintas di atas kepalamu bagaikan layang-layang raksasa, berputar-putar sambil mengantri untuk dibersihkan. Pari Manta ini sedang menjadi klien dari beberapa ikan kecil yang bertugas sebagai “pencuci mobil”. Saat ikan-ikan kecil ini (kebanyakan Angelfish) selesai membersihkan satu Manta, maka mereka akan pindah ke Manta lain dan memulai lagi proses pembersihan. Bayarannya? Tentu makanan yang menempel di badan Pari Manta.

Pari Manta bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk membersihkan diri. Pesolek juga, ya? Manta-manta ini membersihkan parasit yang menempel di tubuh mereka, serta membersihkan luka yang mereka miliki agar tidak infeksi. Terdapat dua stasiun pencucian di Waigeo. Keduanya memiliki arus yang cukup kuat, jadi kamu harus meminjam tali berkait agar bisa menjangkarkan diri ke hard-coral dan menonton acara bersih-bersih dengan tenang. Oh ya, butuh guide berpengalaman untuk mengantar kamu ke stasiun ini. Jika tidak, Pari Manta ini bisa terganggu lalu kabur.

Waitanta, Rumah dari Kalkun Bruijn Berkepala Merah
Maret 1999, penelitian besar-besaran dilakukan untuk menemukan kembali kalkun Bruijn berkepala merah. Butuh waktu sampai Desember tahun 2000 sebelum akhirnya tulang belulang kalkun yang hidup di semak-semak ini berhasil ditemukan. Setelah dilakukan penelitian lebih lanjut, diketahuilah bahwa ternyata Mangkwap —nama  lokal burung ini— masih hidup, walau pun jumlahnya sangat sedikit. Mereka bisa ditemukan di Waigeo dan Batanta yang disingkat Waitanta.
Kini, mimpi dari kebanyakan para ahli unggas adalah melihat secara langsung kalkun kepala merah ini. Foto hasil jepretan sendiri dari Mangkwap adalah sebuah harta karun yang sangat dihargai, dan proses mencarinya adalah sebuah petualangan yang membutuhkan skill khusus. Jika kamu juga ingin masuk ke daftar segelintir orang di dunia ini yang pernah melihat Aepypodius bruijni, arahkan kapalmu ke Waitanta.

Perairan Salawati, Tempat Peristirahatan Terakhir Kapal PD II
Sebagai tempat yang menjadi saksi perang dunia kedua, Raja Ampat memiliki banyak ceceran kapal laut dan pesawat yang tenggelam di perairannya. Sebut saja Shinwa Maru, pesawat P40 dan banyak lagi mesin-mesin korban PD II yang kini tidur selamanya di dasar laut.
Setelah dulu menjadi biang kengerian, kini bangkai kapal perang ini menjadi sebuah pemandangan yang indah. Mereka terlihat seperti labirin raksasa yang menantangmu untuk memasuki perut mereka. Di dalamnya, ikan-ikan yang menjadikan kapal ini sebagai rumah akan menyambut kedatanganmu dengan rasa ingin tahu. Perairan yang memiliki koleksi kapal karam adalah perairan Salawati dan pulau Wai.

Perairan Pulau Misool dan Blue Mangrove-nya yang Terkenal
Blue Water Mangrove di Misool menjadi terkenal sekitar tiga tahun lalu saat seorang jurnalis mengabadikannya dengan kamera bawah air. Di lokasi Blue Water Mangrove, akar-akar pohon bakau bertemu dengan titik dimulainya terumbu karang tumbuh. Bahkan, beberapa pohon bakau pun ditempeli oleh terumbu karang, membuat sebuah pemandangan yang unik.

Di lokasi Blue Water Mangrove jenis ikannya pun menjadi beragam. Mereka yang biasanya hidup di sekitar mangrove bercampur dengan mereka yang biasanya hidup di sekitar terumbu karang. Untuk mendapatkan komposisi foto atas air-bawah air yang memukau, Blue Water Mangrove-lah jawabannya.


Keluar Masuk Gua dengan Raja Laut di Kepulauan Wayag
Di ujung utara Raja Ampat, terdapat kepulauan Wayag yang memiliki keindahan yang grandeur. Ratusan bukit kapur mencuat dari atas laut, pantai-pantai berpasir putih memanggil untuk disinggahi, dan taman-taman hard-coral mengeluarkan pesona warna-warninya. Tapi, jika kamu bisa mengalahkan semua godaan itu, kamu akan mendapatkan hadiah utamanya.

Di bagian timur laut kep. Wayag, terdapat gua bawah laut yang sering dikunjungi oleh hiu karang abu-abu. Asal di badan kita tak ada luka terbuka, sebenarnya cukup aman untuk berenang bersama hiu-hiu ini. Gerakan mereka ditingkahi oleh ­soft-coral berbentuk kipas yang menempel di dinding gua. Kombinasi warna abu-abu hiu dan warna merah seafans ini memberikan sensasi visual yang memikat.


Sumber